mengenal SHGB sertifikat hak guna bangun

Istilah SHGB alias Sertifikat Hak Guna Bangunan mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda, apalagi jika Anda sering disodorkan brosur perumahan atau apartemen oleh para sales. Namun, apakah Anda tahu dengan jelas pengertian dari SHGB dan perbedaan sertifikat hak milik dan hak guna bangunan?

Tidak sedikit orang yang menyesal belakangan saat menyadari adanya masalah sertifikat setelah membeli bangunan. Ketika hendak membeli properti, memang sudah sepatutnya Anda mempelajari terlebih dulu mengenai jenis sertifikat yang ditawarkan, beserta kelengkapan suratnya.

Ini penting untuk mencegah timbulnya masalah di masa depan. Apalagi jika Anda tertarik membuka usaha dan membangun gedung, maka Anda wajib mengenal SGHB dan memahami cara mengurus ketika HGB habis masa berlakukanya.

Kewenangan untuk menggunakan lahan

Sesuai namanya, HGB adalah suatu hak yang didapatkan untuk menggunakan bangunan di atas sebuah lahan yang bukan miliknya sendiri dalam jangka waktu tertentu.

Dengan kata lain, sang pemegang sertifikat HGB tidak memiliki lahan, melainkan hanya memiliki bangunan yang dibuat di atas lahan ‘pinjaman’ tersebut.

Pemilik lahan bisa negara, pengelola, maupun perorangan. Jika milik pemerintah alias tanah negara, artinya hak guna bangunan diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk.

Untuk tanah hak pengelolaan, hak guna bangunan diberikan diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan usul pemegang hak pengelolaan. Sedangkan untuk tanah hak milik perseorangan, pemegang hak milik memberikan hak guna bangunan melalui akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah.

Bangunan di atas lahan dapat digunakan untuk kepentingan pribadi maupun bisnis usaha, termasuk tempat tinggal vertikal alias apartemen. Siapa saja yang bisa memperoleh sertifikat HGB? Harus Anda yang berstatus warga negara Indonesia atau Badan Hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.

Properti dengan sertifikat HGB ini tepat bagi Anda yang tidak berniat tinggal di satu tempat yang sama untuk periode lama. Maklum, jangka waktu penggunaan lahan memang beragam. Bisa 5, 10, 15, 20, hingga maksimal 30 tahun.

Jika masih mau menggunakannya setelah hak guna bangunan berakhir, sertifikat ini harus diperpanjang secara berkala.

Tentunya SHGB berbeda dengan SHM. SHM merupakan sertifikat terkuat karena pemilik lahan dapat memiliki lahan tanpa batas waktu sehingga bisa diwariskan. Artinya, ia juga punya kekuasaan penuh untuk mengelola bangunan dan tanah.

Jadi kecuali ada peralihan hak pakai atas tanah hak milik tersebut, pemegang SHM bisa terus memanfaatkan dan memiliki lahan tersebut.

Ini tentunya berbeda dengan pemegang SHGB, yang harus memperpanjang sertifikat ketika masa berlaku berakhir. SHGB juga bisa dihentikan jika pemegangnya tidak lagi memenuhi syarat sehingga harus melepas atau memberikannya kepada orang lain, atau mengembalikannya kepada negara, pemegang hak pengelola, atau pemegang hak milik.

sumber :rumah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: